Wednesday, February 9, 2011

Fly to Seoul (2)

Pagi saya terbangun dengan perasaan aneh: di mana saya? Sensasi asing yang paling asik selagi traveling. Saya pun menyadarkan diri kalo saya sedang dalam perjalanan mencari kitab suci (emangnya Sun Go Kong?) Oke, saya akan mengeksplorasi Seoul untuk 6 hari ke depan! Dengan keadaan sekamar berlima, saya pun inisiatif bangun paling pagi (pukul 06 pagi) supaya tidak antri kamar mandi karena pemilik hostel berjanji akan mengantar kami pukul 08.30 ini ke bandara Incheon (untuk bertemu dengan rombongan lain). Saya buka jendela kamar yang ada di lantai 10 ini. Buset! Masih gelap banget! Saya pun memutuskan untuk tidur lagi dan memutuskan bersiap setengah ajm kemudian.

Seperti yang dijanjikan, 10 orang rombongan maskapai Airasia menunggu 20 orang rombongan maskapai Garuda di Gate C bandara Incheon. Karena tiba lebih awal, kami pun sarapan dan saya memilih sarapan yang paling murah: plain donuts Dunkin Donuts 1.000 Won dan air tab gratis! Hahaa! Pukul 9 rombongan berkumpul lengkap dengan ketua gengnta: Claudia Kaunang :p Saya pun menyambut dan memeluk mami saya. Thanks God, beliau tiba dengan selamat! Masing-masing dari kami naik ke bus dan perjalanan dimulai!


Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Hwaseong Fortress di kota Suwon. Komplek benteng bertembok yang dibangun menghormati Raja Sado yang dipaksa bunuh diri oleh Raja Yeongjo ini masuk dalam daftar UNESCO World Heritage. Keluar dari bus, rombongan pun kalap berfoto ria, tidak terkecuali saya (atau tepatnya mami saya). Angin winter yang berhembus membuat saya kedinginan. Padahal saya sudah berpakaian longjohn dan lapis empat! Oia, saya lupa memperkenalkan tour guide kami, Mr. Alex namanya (lupa nama korea beliau). Mr. Alex kira-kira berusia 40-50 tahun namun sangat energik! Orangnya humoris dan sangat sabar! Tidak ada seorangpun di rombongan yang tidak menyukai beliau. He's the best! Kami pun berkeliling sebagian kecil  Hwaseong Fortress (luas seluruhnya hampir 6 km). Saat menyeberangi jalan, kebetulan saya menyeberang lebih dulu dan harus menunggu beberapa teman. Sambil menunggu, ada seorang halmeoni (nenek) yang mengamati saya. Saya pun menunjukan kamera ke arah beliau dan berpose bersama. Tara! Ini foto kami. Dan tau? Seperti tanda perkenalan atau ucapan terima kasih, halmeoni memberi saya permen. Uoohh... *tersentuh*

 Bus melaju ke Folk Village, lokasi di mana kami pun akan makan siang. Yeay! Seru deh! Pelayannya rata-rata ibu-ibu mengenakan Hanbok. Sumpit dan garpu lebih panjang dari biasa. Daaann... kimchiii!!! Ya, hidangan'snack' ini akan biasa menemani (biasanya saya cuma temui saat bersantap di resto Korea FISIP-UI). Hidangan pun datang: Dolsot Bibimbap! Nasi putih di atas mangkok batu panas dengan lauk di atasnya berupa sayuran beraneka warna, daging sapi, telur mentah, dan sambal gochujang. Sebelum dimakan, nasi dan lauk diaduk. Panas dari mangkok batu bikin telur jadi matang (ajaib! hehee..) dan karena minyak wijen di mangkok, nasi pun menjadi kerak yang garing dan harum untuk dimakan.

Selesai makan siang, kami pun mengelilingi Folk Village. Tepat di depan restoran, ada toko yang menawarkan jasa pemotretan dengan Hanbok sewaan. 20.000 Won per lembar foto. Karena saya tidak berminat (ngirit sih sebenarnya), saya pun masuk berkeliling Folk Village. Begitu masuk saya disuguhi foto Dae Jang Geum. Ya, di sini area shooting drama Jewel in the Palace. Saya sih belum pernah nonton. Tapi setau saya banyak orang yang bilang drama ini bagus untuk ditonton (oke, uda masuk waiting list!). Folk Village ini memang mengagumkan! 270 Hanok (rumah tradisonal Korea) dan perlengkapan rumah jaman dulu dikumpulkan dan dijadikan museum dalam satu area luas itu berhasil menyulap saya seakan ada di Korea era 150 tahun yang lalu. Dan pas banget! Ada serombongan artis yang sedang shooting sambil mengenakan pakaian 'jadul'. Saya pun tidak melewatkan kesempatan ini untuk foto bersama. Hihihii....

Selesai mengelilingi Folk Village yang luas, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Hongik University, universitas swasta yang terkenal dengan jurusan seni. Di tengah perjalanan, kami berhenti di atas jembatan Han River untuk berfoto. Bus kembali melaju dan berhenti di area dekat Hongik University/Hongdae. Sebenarnya bukan kunjungan ke universitasnya, tapi shopping areanya yang menarik untuk dikunjungi, layaknya tempat gaul/ hang outnya ABG Korea. Dan benar, toko2 baju, sepatu, kudapan pinggir jalan, kafe, salon, dan aksesoris berjejer sepanjang jalan. Saya paling suka dengan toko sepatunya, murah dan bagus! Sayangnya, karena sedang musim dingin, sepatu yang dijual banyakan boots. Tapi gapapa, boots bagus bisa didapat dengan harga 10.000 Won! Hal menarik lain yang bisa ditemui di area ini adalah Hello Kitty Cafe. Kursi, meja, dinding, bahkan toilet, semuanya bernuansa Hello Kitty! Pecinta Hello Kitty pasti serasa di surga kalo ke sini. Hihihii...

Tepat pukul 18.00 kami berkumpul di Yoogane untuk santap malam. Menunya? Chargrilled spicy chicken! Satu loyang panas di perhadapkan di depan empat orang untuk sekali santap. Pelayan akan menaruh lauk dicampur sayuran di atas pan panas. Seru! Rasanya mirip ayam cincang bumbu padang, tapi lebih asin manis. Walaupun kami makan dengan lahap saking laparnya, tetap saja porsinya terlalu banyak hingga bersisa dan dibungkus kalo-kalo di hostel nanti ada yang kelaparan :p

Perut kenyang, hati senang. Tidur pun sepertinya menyenangkan! Ya, bus pun melaju menuju hostel tempat kami menginap untuk 4 malam ke depan: Mr. Sea Backpacker Hostel. Saya tidur di 7 bed dorm dengan shared bathroom. Saya dan rombongan pun segera berberes dengan koper dan barang bawaan kami. Emang dasar anak muda, sayang rasanya jam 8 malam uda tidur. Saya pun mengajak beberapa teman saya untuk berkeliling di sekitar hostel. Oya, serunya hostel kami letaknya strategis banget! Jadilah kami bertujuh menjelajahi area pertokoan sepanjang Jongrogu sampai pukul 23.30! Udara malam hari memang lebih dingin. Ga heran sekembalinya saya di hostel, hidung meler dan bersin-bersin! Huhuhuuu...

Tuesday, February 8, 2011

Fly to Seoul! (1)

Flight saya hari ini memang menyiksa. Keberangkatan internasional yang mengharuskan tiba di bandara 2 jam sebelum penerbangan membuat saya harus terbangun oleh alarm Blackberry saya tepat pukul 02.30 pagi. Dan parahnya lagi, packing belum selesai! Saya pun buru-buru bangun dan terlambat tiba di tempat janjian dengan teman saya, Dento di pukul 04.00. Untunglah perjalanan lancar. Taxi kami tiba di bandara pukul 04.30. Setelah BBMan dengan beberapa teman trip bareng, kami pun check in.

QZ 7682 hari ini sangat on time. Tepat pukul 06.20 pesawat take off dan tiba di LCTT pukul 09.20 (dengan perbedaan waktu 1 jam lebih cepat dari Jakarta). Karena di sini kami hanya transit dan penerbangan selanjutnya ke Seoul pukul 13.55, kami pun makan (sarapan+makan siang) di Taste of Asia. Walau saya memesan nasi lemak spesial, saya tidak order minuman. Maklum, backpacker. Saya yang lumayan terbiasa transit di LTCC tau jelas air mineral yang dijual di resto tersebut lebih mahal: 3,4 RM. Padahal tepat di depan resto ada toko kecil yang menjualnya dengan harga 1,5 RM (lumayan buat beli tiket lagi :p). Karena masih harus menunggu lama, saya, Dento, dan Saphire (nama aslinya Syarif) pun berkeliling di pertokoan sekitar LCTT (apa daya, waktu pun ga cukup untuk ke KL Sentral).

Setelah beberapa lama menunggu, teman-teman saya check-in bagasi. Berhubung saya sudah self check-in via web dan hanya membawa 1 tas backpack+ 1 tas selempang kecil Eiger orange, saya tidak ikut. Di sini sempat terjadi hal menegangkan. Kebetulan teman saya, mbak Erry sedang di toilet pas mbak Sri, mbak Arie, dan Dento check-in bagasi. Tak lama mbak Erry pun datang dan ngobrol dengan suami. Saya pun tidak sadar karena sedang berWi-fi ria sampai mbak Erry bertanya teman-teman yang lain pergi kemana. Saya jelaskan kalo mereka sedang check-in bagasi dan astaga! Mbak Erry dan suami belum check in bagasi! Bagaimana ini? Sudah jam 12! Mbak Erry dan suami pun buru-buru ke counter check-in bagasi. Setengah jam menunggu, belum ada satupun teman saya yang datang. Gaswat! Saya dan Saphire menyusul dan bertemu dengan mereka yang baru selesai menaruh bagasi. Ternyata antrian panjang dan counter yang buka hanya satu! Gaswat! Bagaimana dengan mbak Erry dan suami yang baru menyusul? Sudah jam 1 pula! Syukurlah mbak Erry dapat dihubungi dan kami janjian bertemu di boarding room. Dan puji Tuhan tepat pukul 13.30 kami semua bergegas masuk ke pesawat D72684.

Wow! Saya excited sekali! Ini kali pertama saya traveling dengan pesawat airbus besar komposisi bangku 3-3-3. Bukan hanya itu, aircraft crew yang menyambut dan membantu saya menemukan seat sangat ganteng! Mendekati Lee Min Hoo lah! Hehee.. Ditambah lagu Fly to Seoul ~2 PM yang diperdengarkan di pesawat. Belum sampai tujuan, bikin serasa di Seoul aja! Seketika saya jatuh cinta sama negara ini! <3


Take off tepat pukul 13.55, saya duduk di bangku 24 H, diapit teman saya Dento dan seorang perempuan, Phe namanya. Kami berkenalan dan berbincang-bincang sepanjang perjalanan. Phe berdomisili di Kuala Lumpur dan mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi di Korea Selatan. Lulus dari studi, dia pun bekerja di Seoul sampai sekarang. Ternyata dia pulang kampung untuk merayakan Imlek bersama keluarga di Kuala Lumpur dan sekarang harus kembali ke Seoul. Phe teman perjalanan yang menyenangkan! Saya sempat kaget, ternyata usianya 28 tahun! Saya kira kami sebaya. Phe belum menikah. Dasar saya iseng, saya tanya dia ingin menikah usia berapa. Phe pun menjawab ingin menikah di usia 30 tahun. Keceplosan, saya pun bilang kalo di Indonesia umumnya menikah di awal usia 20an dan dia kaget! Hahaa!

Dalam 6 jam perjalanan selanjutnya, saya pun tertidur lelap (untungnya sudah dilatih tiap minggu tidur di bus Damri Bandar Lampung 8 jam!). Selanjutnya saya terbangun untuk mengisi arrival card dan embarkation card yang terjepit di kursi depan saya (sepertinya aircraft crewnya memaklumi saya yang sedang tidur). Saat saya mengisi lembaran tersebut, saya melirik ke arah Phe. Dia sedang menulis catatan di atas notes dengan aksara mandarin! Saya jadi iri. Dia bisa 4 bahasa: Mandarin, Melayu, Inggris, dan Korea! (Dia sempat share kalo dia lancar bahasa Korea setelah belajar hanya dalam 4 bulan). Saya sumpahi diri saya untuk lebih belajar keras untuk menguasai bahasa asing selain bahasa Inggris. Dan sisa perjalanan tetap diisi dengan kegiatan: tidur.


Tiba di Incheon pukul 21.15 (dengan perbedaan waktu 2 jam lebih cepat daripada Jakarta). Brr! Dinginnya sudah terasa! Setelah melewati imgrasi, kami pun menunggu jemputan di lobby Incheon. Ya, malam ini kami akan bermalam di Incheon Backpacker Hostel karena waktu terlalu malam untuk menyusul ke Seoul. Lagipula kami harus menunggu kedatangan rombongan yang berangkat dengan maskapai Garuda besok pagi di bandara Incheon. Namanya juga norak, langsung deh ngetweet dan update status di facebook: Incheon. Kebetulan mbak Ade sedang mengurus peminjaman ponsel di loket dekat lobby (oh ya! di Seoul kita tidak membeli sim card, tapi juga meminjam hp nya!).

Seorang pria tegap berkaca mata pun datang ke arah kami. Ternyata pemilik hostel yang akan mengantar kami. Setelah berbincang dengan teman saya dalam bahasa Inggris, kami pun berangkat. Tapi tiba-tiba.. Si ahjussi menunjuk ke arah saya sambil berbicara dalam bahasa korea. Heh? Saya pun bingung. I beg your pardon, Sir? Oh, ternyata saya dikira orang Korea dan ada di rombongan terpisah dengan teman saya. Great! Awal yang sempurna buat saya menggaet pria Korea selama di Seoul! Hahaa! Hostel yang kami inap malam itu ternyata berupa flat apartemen yang disewakan. Jadi, sangat nyaman! Seperti hotel bintang 3. Saya yang sudah tepar pun hanya menyikat gigi dan mencuci muka dan kaki. Yeah, malam pertama saya di Korea Selatan. Annyeong haseyoooo!!!! :D

Friday, January 28, 2011

God bless me!

Saat ini saya sedang berada di atas kapal dari Bakauheni menuju Merak. Ya, sudah biasa memang setiap hari Jumat sepulang kerja saya menyeberang selat Sunda ini dan berada di 2 pulau besar Indonesia. Hebat bukan? Hahaa! Untunglah atmosfir ngeblog di tengah laut ini didukung oleh smartphone canggih saya. Sebut saja dia Strawberry. Strawberry memang smart! Saya yang biasa nge-blog via PC pun terkagum-kagum ngetik via Strawberry! #norak Jangkar kapal baru diangkat sekitar pukul 21.30 dan penyeberangan biasa ditempuh dalam kurun waktu 2-3 jam. Anehnya, mata yg biasanya 'finger print' untuk tidur jam 10 malam, kali ini masih segar. Untuk memanfaatkan waktu, sayang rasanya kalo saya tidak manfaatkan untuk menulis kejadian simple yang baru saya alami, tapi amazing buat saya pribadi.

Sebelumnya saya menjadwal untuk tidak pulang ke Jakarta minggu ini. Aneh memang, karena itu berarti mukjizat! :p Well, saya sebenarnya sih karena hari Rabu depannya saya akan berangkat ke Jakarta untuk imlekan dan berangkat ke Pontianak hari itu juga (See? Saya akan ada di 3 pulau besar Indonesia! Saya memang hebat! Haha!) Jadi, daripada mubazir (dan saya memang lagi nekan budget banget buat nabung ke Korsel nanti), saya memutuskan stay di Lampung. Tahulah saya seperti apa. Sulit membayangkan saya yang tidak punya schedule minimal 1 minggu ke depan. Alhasil, dari minggu sebelumnya sayapun merencanakan untuk berenang dan ke pantai ke teman seperjuangan saya di Lampung (Teman kampus, teman kos, teman kantor dan mudah-mudahan bukan teman hidup~amit-amit!), Putri.

Manusia berencana, tapi keputusan Tuhan yang terlaksana. Bolehlah saya berencana untuk spend weekend di Lampung. Mendadak suatu pagi saya menerima email dari Claudia Kaunang bahwa kami akan ketemuan di Plaza Semanggi hari Sabtu! Cakep! Schedule pun dirombak dan akhirnya di sinilah saya, menulis log di atas kapal (Maaf ya utii, sequel berenang kita lanjutkan ke waktu yang belum bisa diputuskan. Have fun, say!).

Beberapa hari ini Bandar Lampung selalu hujan pada siang menuju sore hari (yang puncak hujannya di malam hari, tidur jhadi pules, pagi jadi males bangun). Sambil berharap pulang kantor nanti cuaca baik-baik saja, pagi ini saya menerima kabar mengejutkan! Sebuah kapal meledak saat menuju Merak! Konon beberapa orang tewas dan masih belum bisa dipastikan jumlah pastinya. Kapal yang bernama Lautan Teduh tersebut meledak karena sebuah mobil yang terbakar di parkiran kapal. Jadi parno. Untunglah iman di dalam hati saya berbisik bahwa semua akan berjalan baik-baik saja. Amin.

Tiitt!!! Kotak hitam itu berbunyi. Selesai finger print, saya bergegas menuju parkiran motor. Waduh! Awan gelap sudah menghiasi langit. Tanda-tanda hujan sepertinya tidak dapat dihindari. Oh, bless me God! Saya pun segera tancap gas. Smapai di kos, saya buru-buru ambil ransel backpack dan tas kecil Eiger saya dan.. 'Tes! Tes!' Hujan pun datang. "Ah, terobos aja!", pikir saya. Tanpa ragu (dan tanpa mandi), sayapun mengunci kamar kos ditemani payung saya tercinta (walaupun sebuah payung, tapi saya beli di China dan sudah menemani saya ke beberapa negara lho! Hehee). Hari ini saya 'ngeteng' dan sendiri berangkat ke Jakarta. Dari kos naik angkot ungu dan nyambung angkot oranye (Fyi, trayek angkot di Lampung bukan ditandai dengan angka tapi warna. Saya juga heran awalnya. Kalo ada orang buta warna gimana?). Turun di Panjang (nama daerahnya), saya pun naik travel menuju Bakauheni. Naik travel ini kesel-kesel nyenengin memang. Kesel karena 'ngetem'nya lama, nyenengin karena harganya murah (masih inget kalo saya lagi nekan budget untuk ke Korea?). Hampir satu jam menunggu, travelpun berangkat. Satu setengah jam perjalanan, saya pun tiba di Merak. Kucruk, kucruk~perut saya bunyi. Ternyata seharian ini perut saya belum dihajar nasi. Dasar orang Endonesa! Saya pun mampir ke rumah makan padang dekat loket. Saya biasa pesan nasi padang (dengan ikan tongkok kesukaan saya). Tapi berhubung hujan, saya jadi pengen yang anget-anget. Pilihan pun jatuh pada SOTO! Dingin-dingin begini pasti sedap makan berkuah dan panas, pikir saya. Oia, harga di rumah makan ini masih standar, makanya saya berani pesan. Saya yang biasa nanya harga sebelum pesan pun, karena suda biasa, tidak tanya-tanya harga lagi. Sampai di kasir: "Berapa semuanya pak?" "21 ribu (nasi soto 17ribu+jeruk panas 4rb)" Alamak! Mati-matian neken budget di transport, bermuaranya di pengeluaran konsumsi juga. Pas saya liat, pantas saja mahal. Porsi sopnya banyak banget! (Untung ga bersantan), dan isinya daging semua! (Padahal maksud hati maunya daging ayam). Dengan berat hari saya keluarkan selembar uang warna biru. Hiks!


Selesai membeli tiket kapal di loket (Rp 11.500),saya masuk ke dermaga). Eh, ketemu teman saya Riogi dan rombongan orang pajak di kpp Tanjung Karang, Kedaton, dan Kanwil. Tuhan baik! Saya jadi punya teman barengan. Sampai di kapal kamipun memilih ruang lesehan. Tak lama kemudian, datang rombongan bapak-bapak dari kantor saya kpp Teluk Betung! Wah, ini manh namanya reunian di kapal! Bisa kebetulan gitu yak? Saya pun dapat tumpangan dari Merak ke Cibubur, rumah saya oleh orang-orang kantor saya yang kebetulan bawa mobil (sebenardiajak, tapi menolak dengan halus karena ga enak hati. Bos-bos semua bookk!). Sambil menyantap makanan mahal (menurut saya) yang saya beli tadi, saya pun mengucap syukur kepada Tuhan. Rasa-rasanya baru tadi saya meminta dalam doa dan permohonan. And u know what? Apa yang gw alami barusan bener-bener sama persis sama apa yang ada di pikiran saya yang akan saya dapatkan. Luar biasa! Di masa sabat saya seperti ini, Dia tetap bekerja! That's what we called as GRACE, right? He is my God! :)


Selat Sunda, 28 Januari 2010

Tuesday, January 25, 2011

Poor blogger newbie :(

Bermula dari obrolan di twitter kalo saya abis update blog kemarin malam di kantor, siang ini saya dan dua orang rekan kantor saya mas ijal dan k'ryo asik ngobrolin blog masing-masing (tepatnya saya yang memulai karena 'udik' utak-atik blog biar ga keliatan simple. Setelah 'berguru' sama mereka, saya jadi ketagihan search dan add widgets untuk mempercantik blog saya. Alhasil, seharian kerja jadi ga konsen!

Emang repot jadi cewek. Estetika yang tinggi bikin saya ga puas sama editan design blog saya. Ganti font, warna template, tambahin widgets seharian masih aja ga puas-puas, rasanya masih kurang dan belum maksimal untuk tampil eye-catchy dan elegan (Cieeh!). Bahkan sampai jam pulang kantor, karena pekerjaan yang masih menumpuk (dan hujan deras), saya pun memutuskan untuk stay di kantor dan (tetep) ngutak-ngatik blog saya ini.
Belum puas dengan widgets yang dipunya, saya pun googling dengan keyword search: travel widgets for blog. Dan wow! Keren-keren aplikasinya! Saya pun langsung nafsu menambahkan widget-widget cantik tersebut ke blog saya (Biar maki eksisidentitasnya sebagai traveler. Ahaha!)

Sampai suatu ketika saya menemukan link keren untuk travel-blogger: blogabond.com. Widget ini bisa menampilkan header blog kita dengan peta dunia yang bisa ditarik garis tempat-tempat yang sudah dan akan dikunjungi. Wah, tanpa ragu lagi gw klik: add widgets! Saya ikuti petunjuk instalnya, dan emang dasar saya nafsu, saya langsung 'save setting' untuk blog saya. Pasti bakal keren, pikir saya. Dan dengan tidak sabar, saya pun segera meng-klik 'View Blog' untuk lihat hasil add new widget saya (travel map) tersebut. Tapi, oh TIDAAAKKK!!! Peta yang jadi header memang keren, tapi templatenya jadi jauh lebih simple dari yang saya buat. Lemes.

Saya cari akal untuk mengembalikan template lama saya. Saya klik'undo', tetap tidak berhasil. Oh, no! Bahkan alamat blog saya jadi di direct ke nama alamat yang berbeda, bukan defilavida.blogspot.com lagi! Hiks! Mau nangis saya rasanya. Seperti sia-sia seharian ini utak-atik blog, dan yang bikin kacau: saya pelakunya! Mood saya untuk nge-blog mendadak turun. Nafsu saya yang awalnya menggebu-gebu jadi ciut tertinggal seperti debu (Apa deh!).

Silent. Tenang. Saya ambil waktu beberapa menit untuk take a deep breath and say "Everything's okay, Def!". Dan jari saya pun kembali menari dengan lentik untuk menulis kekesalan saya yang terjadi beberapa menit lalu (I mean, that's what my blog for right?). Akhirnya nafsu ngeblog saya pun naik lagi, kali ini rada beda auranya karena saya nafsu karena semangat menumpahkan kekesalan saya. Beberapa menit saya menulis, tiba-tiba.. BLACKOUT! Mati lampu! Cakep! Ada apa sih saya dengan blog? Kaya ga jodoh banget deh! Beberapa tahun yang lalu saya bikin blog, akhirnya terabaikan entah dimana. Saya bikin lagi, tapi angot-angotan. Nah, sekarang lagi semangat karena ada komunitas di kantor, malah ada kejadian kaya begini. What do you want from me my little cutie bloggie?

Gelap. Sunyi. Sendirian di ruangan kantor dan ga bisa liat apa-apa kecuali terang yang bersumber dari BB saya. Well, saya sih ga ada masalah gelap-gelapan begini. Cuma saya harus ngapain sekarang? Mau pulang, di luar hujan deras. Mau ngapa-ngapain di kantor, ga bisa gara-gara lampu mati begini. Beberapa menit ngedumel, sepertinya malaikat lewat menyampaikan persungutan saya dan menjawabnya dengan kejutan kecil. Taarraaa!!! Listrik jalan lagi, langsung buru-buru tekan 'turn on' PC sambil ngumpulin mood buat lanjut nge-blog (Well, ga ada pilihan lain kan? Di luar masih hujan deras bookk!!). Oke, sejujurnya saya ga langsung lanjutin nge-blog. Saya butuh mood-booster: nonton K-Dorama 'God of Study'. Ga lama, cuma beberapa menit, itung-itung buat latihan listening sebelum ke Korea 2 minggu lagi (sombong dikit ceritanya).

Dengan enggan melihat tampilan template saya yang bikin illfeel itu, kemudian lanjut ngeblog. Yah, gw harus ngulang lagi dah! Tapi kemalasan itu harus dibunuh biar unconsistency of blogging tempo dulu ga terjadi lagi, pikir saya.Ngetik, ngetik, ngetik, BREETTT!!! Blackout again! Muonyoongg!!! Masa gw ngulang 3 kali? Ah! Ga asik banget sih! Kebetulan hujan mulai reda, dan saya pun memutuskan untuk pulang ke kos. Sampai di kos, beberapa menit kemudian hujan lebat. Lumayan lama bok! Bahkan sampai saya tertidur pulas, masih hujan deras. Well, dari sini saya menyimpulkan bukan kebetulan kejadian 'ngebetein' blackout itu terjadi beberapa kali. Ini 'tindakan pengusiran' dari Tuhan, untuk kebaikan saya sendiri! Oh, saya langsung bertobat dan mengucap syukur kepada Tuhan. Kalo ga, mungkin saya akan menginap di kantor sampai pagi bukan? :D



p.s.: k'ryo kualat! Gara-gara mengejek saya yang sendirian di kantor dan mati lampu, dia pun kena karma! Mati lampu pas lagi main DOTA! Hahaa! #puas

Monday, January 24, 2011

iMOVE!

Tak sabar sebenarnya menanti hari ini. Minggu lalu, pemimpin di gereja saya, K'Jo sms untuk hadir di pertemuan pemimpin Abbalove Ministries yang akan dibawakan oleh salah satu penatua kami, Eddy Leo di KTC tanggal 22 Januari 2011 pukul 08.30-12.00. Dan lagi, kemudian saya terima sms dari departemen doa kantor pusat gereja saya di Speed kalo di hari dan tempat yang sama akan ada impartasi dari ps. Paul Ang (dari Kuala Lumpur) tentang pelayanan profetik dan suara kenabian. Oh! Dari judul acaranya saja sangat menggiurkan bukan? (tho it's not food at all, anw). Saya A.N.T.U.S.I.A.S!!!

Dasar emang saya yang demen kongkow sama adik-adik saya malem-malem. Iseng kami pun pergi ke tenda roti bakar favorit kami, tapi menunya: Interned keju, alias Indomie Telor Korned dan keju! Well, pasti mengira kalo banyak tenda yang menyajikannya. Tapi percayalah, kalo kalian mampir ke Cibubur, pastikan kalian mampir ke tenda-yang-selalu-rame ini karena rasanya sudah teruji oleh berbagai jenis lidah! :p Setelah nonton DVD Full House di ruang keluarga, jam 10 malam kami berangkat dan pulang ke rumah sekitar jam 11 malam. Kenyang! Pastinya jangan langsung tidur dong, ga baik untuk pencernaan. Saya pun memutuskan untuk membaca bukunya Deedee Caniago "Flashpacking to Australia" yang saya beli di 2nd Anniversary Gramedia Grand Indonesia (diskon 30% all books!). Berhubung beberapa hari lalu saya sudah booking tiket promo Bali-Darwin, saya pun banyak berkhayal dengan tulisan Deedee sambil berharap tiket JetStar Darwin-Sydney moga-moga murah. Alhasil, saya tidur jam 1 pagi. Aish! Padahal saya harus bangun pagi untuk datang ke acara di KTC karena kami kumpul di Mal Depok jam 7 pagi. Dan benar! Saya yang biasa sehari-hari tidur 7 jam pun bangun tersentak ketika melihat jam di hp saya menunjukan pukul 06.47! Buru-buru mandi, sambil sms teman saya: gimana kalo saya dijemput di halte busway pasar rebo? Syukurlah, bisa. Saya pun buru-buru naik ojek dan bertemu dengan mobil Pak Moren pukul 07.45. Moga-moga ga telat, doa saya.

Puji Tuhan, doa saya terkabul! Kami sampai di KTC tepat pukul 08.30. Saya dan beberapa teman dari Depok absen dan memilih bangku nomor dua dari depan (sebenarnya teman saya sudah take a seat di bangku nomor liam dari belakang, tapi saya ngotot untuk sama-sama pindah ke depan. Biar maknyus dapat impartasinya!~kebiasaan saya dari dulu, selalu duduk nomor dua dari depan). Praise and worship, kak Eddy pun mulai membagikan arahan untuk jemaat Abbalove ke depan. Ini sebenarnya semacam pelatihan untuk memaksimalkan komunitas sel. Luar biasa! Berikut resume yang disampaikan oleh kak Eddy:







Setelah itu, kami break untuk makan siang (puji Tuhan, dapet jatah! Hehee). Kebetulan di sana sedang ada bazaar buku Metanoia: 3 buku hanya 15 ribu! Saya pun mengambil 2 paket buku bertemakan Doa (6 buku) hanya dengan mengeluarkan uang 30 ribu! Mantaf! Sebagai book-shopaholic rather than wardrobe-shopaholic, hari itu hati saya berbunga-bunga! Hohohoo...

Akhirnya sesi dua pun tiba. Dan dengan luar biasa Mr. Paul Ang share tentang karunia bernubuat. Berikut resume yang disampaikan Ps. Paul Ang siang itu:










Luar biasa! Tak terasa waktu menunjukan pukul 18.00, dan roh saya pun recharged! Thanks God! Karena tidak ada tebengan, pulangpun kami naik angkot menuju spot yang dilalui bus Patas AC jurusan Pulogadung-Depok. Karena lama, saya dan teman-teman saya K'Jo, K'Laksmi, Yetti dan Nita pun 'nongkrong' di pinggir jalan. Sambil menunggu, saya gunakan kesempatan ini untuk share tentang sabat saya selama sebulan ini dengan pemimpin sekaligus mentor saya, K'Jo. Kira-kira setengah jam kemudian, bus yang ditunggu pun datang. Saya dan K'Jo terus ngobrol. Banyak hal yang saya diteguhkan. Dan saya selalu mengucap syukur dengan keberadaan orang-orang yang terus berdoa buat saya. Saya bersyukur saat ini saya dimentor K'Jo dan K'Dian (yang tadi pagi bahkan sms saya tentang pesan Tuhan yang dia dapat ketika pagi-pagi dia berdoa. Mengharukan bukan?). Ya, kalo bukan karena orang-orang yang berdoa untuk saya, mereka yang Tuhan panggil untuk terbeban untuk saya, bagaimana saya dapat bertahan sampai sekarang bukan?


Flp 1:3Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu.


Bandar Lampung, 22 Januari 2011

Ane punya SIM, gan!

Ya, walaupun sudah menjadi pengendara motor sejak 4 tahun silam, saya belum teregistrasi secara resmi oleh negara.

Sebenarnya saya ingin banget punya SIM, namun selalu ada berjuta alasan yang membuat hasrat itu tertunda. Apalagi kalo bukan rumor sulitnya mendapatkan SIM? Banyak opini bilang kalo sulit dapat SIM hanya dengan 1 kali tes. Kalo mau lancar, ya lewat jalur belakang. Tapi dasar saya yang waktu itu berhati nurani kenceng (Abis pulang dari camp ESC soalnya), it's a Big No No buat yang namanya nyogok aparat lewat jalur belakang. Sayapun selalu bertekad untuk one day dapetin SIM dengan cara murni. Termotivasi juga dengan pengalaman adik saya, Fendi yang pernah membuat SIM C di Daan Mogot dan langsung jadi dengan 1 kali tes tanpa harus nyogok!

Dasar saya orang sibuk, rasanya sulit sekali mengatur waktu untuk tes ke Daan Mogot dapetin SIM C. Selain shifting dari seorang mahasiswi menjadi Pegawai Negeri Sipil, dalam kurun waktu tersebut saya juga dimutasi ke KPP Teluk Betung, Bandar Lampung. Alhasil makin sulit untuk ambil tes SIM C di Jakarta. Sebenarnya ada opsi mudah, yakni ambil tes SIM di Bandar Lampung. Tapi kan saya tidak punya KTP Bandar Lampung. Saya tidak mau beralih dari KTP Jakarta ke Bandar Lampung, apalagi punya KTP ganda! Kan, ada ada aja alasan yang membuat saya untuk punya SIM.

Waktu pun berlalu. Sampai suatu ketika saya pun mendapat Surat Tugas hari Rabu-Jumat kemarin (19-21 Januari 2011) untuk membuar laporan SAI UAKPA di Kanwil (Satu gedung sebenarnya, cuma beda lantai). Dan.. Thanks God! Kerjaan saya sudah selesai di hari Kamis (tepatnya maksa ngebut supaya bisa ke Jakarta hari Jumatnya). Pulang kantor, saya pun memesan tiket Damri untuk keberangkatan jam 10 malam (dan sempat pula aerobik. hehee). Sebenarnya saya tidak biasa menunggu Surat Tugas (Wong jarang juga dapet) untuk bisa ke Jakarta di hari Jumat karena hampir setiap bulan absen saya diisin dengan keterangan PSW (Pulang Sebelum Waktunya) dengan konsekuensi tunjangan dipotong sebesar 1,25%. api berhubung TMT 1 Januari 2011 diberlakukan PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS  saya jadi berhati-hati dan berusaha dengan sangat untuk tidak PSW. Dan, thanks God! Surat Tugas datang tepat pada waktunya! Saya pun gunakan kesempatan emas ini untuk membuat SIM.

Hujan mewarnai Jumat pagi setiba saya di stasiun Gambir. Berhubung buat SIM harus datang pagi-pagi (dan ngejar jam sholat Jumat juga), saya mengatur waktu supaya mami saya datang menjemput di Gambir dan kami sama-sama berangkat ke Daan Mogot. Tapi emang dasar si Kubil (nama sebenarnya Hasan)! Supir yang akan mengantar kami ke Daan Mogot itu bisa-bisanya telat! Alhasil nunggu dia datang dan menjemput mas Debby (relasi ibu saya yang akan meng-guide kami membuat SIM) membuat jadwal berantakan. Kamipun mengganti spot untuk ketemuan di Mal Ciputra (karena hujan deras, saya pun naik taksi dan 25 ribu saya melayang. Hiks!)

Oia, saya lupa menjelaskan. Berangkat dari kegiatan saya sebagai orang yang super sibuk #uhuk!, dengan berat hati saya memutuskan untuk nembak SIM. Memang seperti berpindah prinsip dan menebalkan hati nurani, namun apa boleh buat. Kejadian jatoh dari motor yang terakhir kali saya alami beberapa hari yang lalu (dan sudah saya alami beberapa kali tentunya) meneguhkan hati saya bahwa saya harus punya SIM. Kan saya harus punya payung otoritas, yaitu pemerintah. Tapi herannya, saya memakai jalan belakang untuk dapat payung otoritas tersebut. Aneh memang. Tapi ya, ditambah lagi sehari sebelum saya berangkat membuat SI,M, pemandangan pagi hari waktu itu dihiasi dengan rombongan polisi yang bertengger di pinggir jalan yang biasa saya lewat (dan saya belum pernah liat polisi razia di sana). Makin kuatlah alasan saya untuk membuat SIM segera dan dengan cara instan pula. Sedih bercampur lega dengan keputusan yang saya ambil, saya pun komat kamit supaya Tuhan mengampuni cara saya. Oh, God bless me please!

Oke, sekarang lanjut ke cerita saya membuat SIM. Kira-kira pukul 10 pagi, akhirnya kami sampai juga di Ditlantas Polda Metro Jaya. Pertama-tama saya membeli formulir di loket dekat kantin dan membayar 20 ribu. Setelah itu saya masuk ke ruangan sebelah untuk tes kesehatan (tesnya cuma baca huruf yang ada di depan yang puji Tuhan karena mata saya normal, dapat saya lakukan dengan mudah). Untungnya lagi saya sudah membawa pulpen hitam dan pensil 2 B (padahal tidak sengaja saya iseng-iseng bawa). Jadinya saya tidak perlu mengeluarkan 3 ribu untuk membelinya seperti yang dilakukan oleh Bang Hasan (Ikutan bikin SIM juga karena SIM udah 5 tahun mati. Cakep!). Masuk ke gedung utama, Mas Debby pun ngobrol dengan polisi petugas yang kebetulan mengurus pembuatan SIM adiknya (lewat jalur belakang). Ngobrol-ngobrol, akhirnya keluarlah tarif yang berlaku: SIM A 550 ribu, SIM C 525 ribu. Alamak! Bisa buat beli tiket PP Jakarta-Singapore itu mah! Tapi yah, apa boleh buat.. Dengan berat hati saya keluarkan 10 lembar uang kertas berwarna merah dan menyenggol lengan mami saya (minta sisanya digenepin! Hehee). Yang kesian si Bang Hasan. Karena SIM B1 nya tidak bisa diperpanjang dan harus dibuat baru, ia dikenakan tarif 750 ribu! Sungguh ter..la..lu. Cerdiknya Bang Hasan menolak dan memutuskan menunggu pembuatan SIM saya di luar (yang akhirnya pas pulang diketahui Bang Hasan ketemu calo yang dengan bayar 300 ribu bisa perpanjang SIm tapi downgrade ke SIM A. Tapi katanya gapapa lah, toh dia ga bakal ambil trayek truk Bakauheni-Merak lagi! ~ becanda).


Dengan membawa lembaran formulir hasil tes (KTP saya baru dan belum di fotokopi lagi!), saya pun diantar ke guide yang akan membimbing saya melewati proses pembuatan SIM. Saya naik ke lantai dua dan masuk ke ruangan untuk mengerjakan tes tertulis. Di sini lucu deh! Pas saya seriusnya mengerjakan soal, si petugas mondar mandir sambil nanya saya sudah mengerjakan berapa soal. Ga cuma sekali! Rada risih, tapi ya sudah saya konsen ke soal saya. Dipikir-pikir soal tertulis tidak sulit. Tapi saya pikir pasti ada aja alasan supaya tidak lulus kalo tidak lewat jalur belakang (Astajim! Saya suudzon! #tepokjidat). Tiba-tiba si bapak nyeletuk; "Ya, Defi.. Uda mau jam 11, pengen cepet pulang kan?" "Iya, Pak", jawab saya. Siapa sih yang ga mau buru-buru foto, dapat SIM, dan terbebas dari perasaan-bersalah-karena-ga-punya-SIM ini? "Nah, itu dijawab cepat aja." "Maksudnya Pak?" "Ya, hitamkan aja semuanya asal.". Mikir sebentar dan akhirnya ngeh~ "Oh! Oke, Pak!" (sambil asal menghitamkan dengan pola jawaban A-B-C-D yang berbeda. Eh, si Bapak malah nyeletuk: "Udah, hitamkan saja semuanya huruf B ya Def.." Gubrak! Dasar emang kalo uda ada pelicin, proses uda kaya jalan tol! Sedih sebenarnya kok negara saya punya administrasi seperti ini. Tapi yah, saya tidak munafik kalo saya secara tidak langsung mendukung kegerakan mafia ini :(

Keluar ruangan, saya diantar ke lapangan tempat ujian praktik. Saya memang tidak akan test drive karena selain hujan, saya kan pake jalur belakang (bukan sombong nih). Guide saya yang bernama Pak Bahri menyerahkan uang 25 ribu. Katanya supaya saya kasih ke petugas untuk memperlancar proses. Geez! Yah, mau apa lagi. Saya toh sudah masuk ke perangkap mereka. Saya ikuti, dan bapak loket ujian praktek menyuruh saya ke loket 9. Hosh! Lumayan jauh juga tuh loket, saya pun disuruh ke lantai dua untuk input data SIM yang akan dibuat. Setelah itu balik ke loket 9 dan akhirnya ambil foto. Selesai foto, pergi ke loket 30 (Pusing dah bolak balik! Jadi inget pendaftaran tes STAN jaman dulu). Akhirnya.. Taaraaaa!!! Jadi deh SIM yang dibuat! Saya pun tidak melewatkan momen tersebut untuk eksis, langsung update status facebook:
Yeay! Finally after years, ane punya SIM gan! setidaknya resolusi yang tertunda terjadi juga di awal tahun 2011. Nice shot! Thanks, God! :D

Pulang dari Daan Mogot ke Bandara Soekarno Hatta untuk menjemput adik saya Fendi yang baru pulang liburan di Jogjakarta. Dan sebelumnya pun saya terima email kalo Visa Korea Selatan saya sudah di-approve! Oh, life's good! Thanks, Jesus! :)

Wednesday, January 19, 2011

My Soul

Gara-gara kejadian jatoh dari motor kemarin, saya jadi pingin carita tentang My Soul.


Pertama kali saya bisa naik sepeda motor waktu semester 5. Itupun awalnya karena hasrat untuk mengakhiri hidup sebagai anak kos (2 tahun kos di Jurangmangu). Pas banget waktu itu lagi jaman-jamanya motor matic. Iming-iming hadiah untuk adik perempuan saya yang tembus SMA unggulan (SMAN 28 Jakarta), ortu saya membeli Yamaha Mio Soul warna Silver. Walau judulnya hadiah untuk adik saya itu, kenyataannya saya yang terus menggunakannya. Cakep. Hehee.. Wong adik saya sampai sekarang belum berani bawa motor, yo wis saya yang bawa. Alhasil, my Soul itulah yang akan menjadi tokoh utama seiring kesetiaanya mengiringi perjalanan saya sampai sekarang.

Akhirnya dimulailah petualangan. Begitu motor inden datang ke rumah, saya pun diajari naik motor sama adik laki-laki saya. Kok adik saya yang bisa duluan? Karena dia laki-laki. *tanya kenapa* Kami berlatih di area lapangan jalan alternatif menuju gerbang tol Cibubur. Untunglah saya punya basic naik sepeda, jadi naik motor matic uda seperti sulap: Simsalabim! Langsung bisa! Hanya saja pastinya dibutuhkan beberapa penyesuaian. Dan latihan motor diakhiri dengan saya bonceng adik saya dari tempat latihan ke rumah. Beberapa hari kemuadian saya nagih. Kali ini tracknya lebih berat: dari rumah ke kampus! Saya pun membonceng adik saya yang bobotnya 78 kg itu dari Cibubur ke Jurangmangu. Alamak! Encok tuh pinggang! Tapi bersyukur juga, jadi siap untuk masuk ke semester 5 pulang pergi naik motor tanpa harus naik motor.